Label

Tampilkan postingan dengan label NASEHAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NASEHAT. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Maret 2015

6 Kebohongan yg dilakukan oleh Ibu

 https://generusjaktim2.files.wordpress.com/2011/06/149897_160937457279755_100000905040464_299128_1735765_n.jpg


1. Saat makan, jika makanan kurang, Ia akan memberikan makanan itu kpd anaknya dan berkata, ”
Cptlah makan, Ibu tdk lapar.”
2. Wkt makan, Ia sllu menyisihkan ikan dan daging untuk anaknya dan berkata, “ibu tdk suka ikan, makanlah, nak..”
3. Tengah mlm saat melihat dia sdg menjahit pakaian utk mencari penghasilan bt keluarga, Ia berkata, ”
Cptlah tidur, Ibu msh blm ngantuq..”
4. Saat anak” sudah tamat dan bekerja di kota besar, mengirimkan uang untuk Ibu. Ia jg berkata, “Ibu masih pny uang.”
5. Saat anak” sdh sukses, menjemput mamanya utk tinggal di kota besar, Ia lantas berkata, “Rumah tua kita sangat nyaman, Ibu sudah terbiasa tinggal di sana.”
Saat menjelang tua, mama sakit keras, hny bs beristirahat, anak”nya akan menangis, ttp Ibu msh bs tersenyum sambil berkata, “JGN menangis, Mama tidak sakit.” Ini adl kebohongan terakhir yg dibuat Ibu.
Tidak peduli seberapa kaya kt, seberapa dewasanya kt, Ibu sllu menganggap kt anak kecil, mengkhawatirkan diri kt tp tdk prnh membiarkan kt mengkhawatirkan dirinya.
Smoga smua anak” di dunia ini bs menghargai setiap kebohongan Ibu, setiap saat jg mensyukuri kebesaran seorg Ibu.
Tdk akan ada kesuksesan tanpa adanya seorang mama di belakang kita…

Sabtu, 21 Maret 2015

6 Thobiat Luhur

1. Rukun

Kita mengatakan rukun berarti :
• Tidak punya unek-unek jelek, drengki serei, Iri hati kepada sesama warga.
• Saling mengasihi, Bantu – Membantu dalam kebaikan, Tolong – Menolong, Kuat – Memperkuat dan saling Mendo’akan yang baik. Berdasarkan dalil dalam Al Qur’an:
وَقَالَ اللهُ تَعَالَى : … وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى … الأية * سورة المائدة أية ۲
“Alloh yang maha luhur berfirman : Dan Tolong – Menolonglah kalian semua atas Kebaikan dan Taqwa. [QS. Al Maidah Ayat 2]”
 • Kalau bertemu sesama warga di usahakan dengan wajah yang ceria (Sumeh/Ajrih). Berdasarkan sabda Nabi dalam hadist Shohih Al Buqori :
حَدَّثَنَا أَبُوْ نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ عَنْ عَامِرٍ قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُوْلُ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيْرٍ يَقُوْلُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَرَى الْمُؤْمِنِيْنَ فِيْ تَرَاحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى عُضْوًا تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى * رواه صحيح البخاري
“Nabi bersabda: Angkau (Nukman bin basyir) melihat orang-orang iman di dalam saling menyayanginya mereka, saling menyenanginya mereka, dan saling mengasihinya mereka, sebagai mana satu tubuh, ketika satu anggota badannya sakit maka seluruh tubuh ikut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam. [HR. Shohih Al Bukhori]”

Kerukunan bila di pandang dari sisi lain yaitu:
  1. Menerampilkan bicara yang baik.
  2. Berwatak yang jujur bisa percaya dan di percaya.
  3. Banyak Shabarnya, Keporo ngalah, dan rebutan ngalah.
  4. Tidak merusak sesama warga baik dirinya, harta bendanya, hak asasinya maupun kehormatannya.
  5. Saling memperhatikan dan saling menjaga perasaan.

2. Kompak

Dalam semua kegiatan harus di kerjakan dengan giat, senang dan gembira.

“HOLOBIS KUNTUL BARIS, SAK IYEK SAK EKO PROYO”

Berdasarkan Sabda Nabi dalam Sunan At Tirmidzi :

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْخَلَّالُ غَيْرَ وَاحِدٍ قَالُوْا حَدَّثَنَا أَبُوْ أُسَامَةَ عَنْ بُرَيْدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِيْ بُرْدَةَ عَنْ جَدِّهِ أَبِيْ بُرْدَةَ عَنْ أَبِيْ مُوسَى اْلأَشْعَرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا * رواه سنن الترمذي
“Dari Abi Musa Al Asy’ari berkata: Nabi bersabda: Orang Iman terhadap Orang Iman yang lain Sebagai mana bangunan yang saling memperkuat antara satu dengan yang lainnya. [HR. Sunan At Tirmidzi]”

3. Kerjasama yang baik

Kerjasama yang baik bukan berarti atau tidak sama dengan sama-sama kerja yang baik, kalau sama-sama kerja yang baik berarti ada berbagai kegiatan yang di kerjakan secara bersamaan dan kalau Kerjasama yang baik itu berarti satu kegiatan di kerjakan secara bersama- sama dan focus dalam penyelesaiannya.
Dalam hal ini sangatlah diperlukan rasa saling peduli, saling mendukung, saling melancarkan, tidak saling menjegal, tidak saling ngentai / gembosi, tidak saling menjatuhkan, tidak saling merugikan dan tidak saling memfitnah. Firman Alloh Dalam Al Qur’an :
وَقَالَ اللهُ تَعَالَى : … وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ … الأية * سورة المائداة أية ۲
“Alloh berfirman: Dan Tolong – Menolonglah kalian atas kebaikan dan Taqwa, Dan janganlah kalian Tolong – Menolong atas dosa dan permusuhan. [QS. Al Maidah Ayat 2]”
Termasuk lagi di dalam kerja sama yang baik haruslah saling peduli, saling memperkuat, saling mendukung, dan saling melancarkan dalam kegiatan apapun. Termasuk juga dalam menjaga keutuhannya kalau ada kabar berita, isu – isu, yang menjelekkan antar sesame warga, adu domba, dan profokasi, Maka supaya melaksanakan “Tabayun” pandai – pandai menyaring berita, apakah berita itu benar ataukah fitnah, jangan langsung mudah percaya, langsung menerima mentah – mentah, apalagi langsung menanggapi dan menyiarluaskan, Sehingga membuat resah, bingung, geger, bahkan mengarah pada perpecahan. Dan ingatlah Firman Alloh dalam Al Quran dan Sabda Nabi dalam Al Hadist :

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آَمَنُوْا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوْا أَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِيْنَ * سورة الحجرات أية ٦
“Wahai orang –orang yang beriman, seandainya datang pada kamu sekalian orang fasek membawa berita, Maka mencarilah kejelasan (tentang kebenaran berita itu) agar kamu sekalian tidak melakukan tindakan pada suatu Qoum dengan kebodohan, Maka kamu sekalian menjadi orang – orang yang menyesal atas perbuatan kamu sekalian. [QS. Al Hujurot Ayat 6]”
حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ ح وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حَفْصٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ خُبَيْبِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ قَالَ إبْنُ حُسَيْنٍ فِيْ حَدِيْثِهِ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ * رواه سنن أبو داود
“Dari Abu Hurairoh berkata: Nabi bersabda: Cukup bagi seseorang berdosa kalau dia bercerita dengan setiap yang di dengarnya. [HR. Sunan Abu Daud]”
وَحَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ بْنُ مُعَاذٍ الْعَنْبَرِيُّ حَدَّثَنَا أَبِيْ ح وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ قَالاَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ خُبَيْبِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ * رواه صحيح مسلم في المقدمة
“Nabi bersabda: Cukup bagi seseorang berdusta kalau dia bercerita dengan setiap yang di dengarnya. [HR. Shihi Muslim]”

4. Jujur الصِّدِقُ

Dikatakan jujur berarti harus bisa berkata yang baik, apa adanya, tidak berdusta, dan tidak menipu. Berdasarkan dalil :
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آَمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصَّادِقِيْنَ * سورة التوبة ١١٩
“Alloh yang maha luhur berfirman : Wahai orang – orang yang beriman beraqwalah kepada Alloh dan jadilah kalian bersama – sama orang yang benar (jujur). [QS. At Taubah Ayat 119]”
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبُوْ مُعَاوِيَةَ وَوَكِيْعٌ قَالاَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ ح وَحَدَّثَنَا أَبُوْ كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُوْ مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا اْلأَعْمَشُ عَنْ شَقِيْقٍ عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا * رواه صحيح مسلم
“Nabi bersabda: tetapilah kejujuran, Maka sesungguhnya kejujuran itu menunjukkan pada perbuatan baik dan sesungguhnya perbuatan baik itu menunjukkan pada Surga dan tidak henti-henti seorang laki-laki berbuat jujur dan sungguh-sungguh berusaha jujur sehingga di tulis di sisi Alloh sebagai orang yang Ahli jujur, Dan Kamu sekalian jauhilah dusta, Maka sesungguhnya dusta menunjukkan pada kedurhakaan dan sesungguhnya kedurhakaan menunjukkan pada Neraka, Dan tidak henti-hentinya seorang laki-laki berbuat dusta dan mempersungguh berbuat dusta sehingga di tulis di sisi Alloh sebagai orang yang Ahli dusta. [HR. Shohih Muslim]”
 

5. Amanah اْلأَمَنَةُ

Amanah berati berate bisa di percaya dan bisa menjaga kepercayaan tersebut, tidak berkhiyanat (Tidak merusak kepercayaan) dan menyampaikan hak kepada yang berhak menerima. Berdasarkan Firman Alloh dalam Al Quran dan Sabda Nabi dalam Al Hadits :
قَالَ اللهُ تَعَالَى : إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوْا اْلأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا … الأية * سورة النساء أية ٥٨
“Alloh berfirman: Sesungguhnya Alloh memerintahkan kamu sekalian untuk mendatangkan Amanah pada yang pemiliknya. [QS. An Nisak Ayat 58]”
قَالَ اللهُ تَعَالَى : … فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِيْ اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ وَلْيَتَّقِ اللهَ رَبَّهُ … الأية * سورة البقرة ٢٨۳
“Alloh berfirman: Maka jika sebagian kalian mempercayai sebagian yang lain, Maka hendaklah yang di percayai itu menyampaikan amanahnya dan hendaklah dia bertaqwa kepada Alloh sebagai Tuhannya.[QS. Al Baqoroh Ayat 283]”
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلاَءِ وَأَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ قَالاَ حَدَّثَنَا طَلْقُ بْنُ غَنَّامٍ عَنْ شَرِيْكٍ قَالَ إبْنُ الْعَلاَءِ وَقَيْسٌ عَنْ أَبِيْ حُصَيْنٍ عَنْ أَبِيْ صَالِحٍ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَدِّ اْلأَمَانَةَ إِلَى مَنْ ائْتَمَنَكَ وَلاَ تَخُنْ مَنْ خَانَكَ * رواه سنن أبو داود
“Dari Abu Hurairoh berkata: Nabi bersabda: Sampaikanlah amanah kepada orang yang memberi kepercayaan kepadamu dan janganlah mengkhiyanati orang yang mengkhiyanatimu. [HR. Sunan At Tirmidzi]”

6. Mujhid Muzhid الْمُجْهِدُ الْمُزْهِدُ

Mujhid berarti Nyambut gawe mempeng (kerja giat bersemangat) berhasil dan kurup.
Muzhid berarti tirakat banter, hidup hemat, gemi, setiti ati-ati tidak boros bisa mengukur antara kemauan dan kemampuan. Berdasarkan Sabda Nabi dalam Al Hadits :
… قَالَ قَدْ أَفْلَحَ الْمُزْهِد … الحديث * رواه أحمد
“Nabi bersabda: Sungguh beruntung orang yang hidup hemat bekerja keras. [HR. Ahmad]”

Jumat, 20 Maret 2015

DALIL MENGAJI

1. Inna Haadzaal ‘Ilma Diinun Fandhuruu ‘Amman Ta’khudzuuna Diinakum
Yang artinya: “Sesungguhnya ilmu adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kamu mengambil agamamu”. (HR. Muslim, juz 1 hal 11).
2. Fa’lam Annahuu Laa Ilaaha Illaallooh(u)
Yang artinya : “ Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak dan wajib disembah dengan sebenar-benarnya) selain Alloh…”. (QS. Muhammad, No. Surat : 47, Ayat: 19).
3. Tholabul ‘Ilmi Fariidhotun ‘Alaa Kulli Muslim(in)
Yang Artinya : “Mencari ilmu itu (hukumnya) wajib bagi setiap orang Islam”. (HR. Ibnu Majah Juz 1 Hal 81).

4. Wa Laa Taqfu Maa Laisa Laka Bihii ‘Ilm(un)
Yang artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti/mengerjakan apa yang kamu tidak mempunyai ilmu pengetahuan tentangnya…dst”. (QS. Al-Isroo’, No. Surat: 17, Ayat: 36).
5. Al-‘Ilmu Qoblal Qouli Wal ‘Amal(i)
Yang artinya: “Ilmu diperlukan sebelum berbicara dan beramal”. (HR. Bukhori Juz 1 hal 25).
6. Al-‘Ilmu Tsalaatsatun Wa Maa Siwaa Dzaalika Fahuwa Fadhlun: Aayatun Muhkamatun, Au Sunnatun Qoo-imatun, Au Fariidhotun ‘Aadilatun
Yang artinya: “Ilmu itu ada tiga, dan yang selain itu hanya lebihan saja (mak: Ilmu Bantu), (adapun ketiga ilmu itu adalah: 1. Ayat yang menghukumi, yakni Al-Qur’an, dan 2. Sunnah yang tegak, yakni Al-Hadits, dan 3. Iilmu faro’idh (tata cara membagi harta pusaka/waris) yang adil”. (HR. Abi Daud, No. Hadits: 2499).
7. Taroktu fiikum Amroini Lantadhilluu Maa Tamssaktum Bihimaa Kitaabillaahi Wasunnatin Nabiyyih(i) Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam
Yang artinya: “Telah aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan sesat selama berpegang teguh pada keduanya,  yaitu Kitab Alloh (Al-Qur’an) dan Sunnah Nabi-Nya (Al-Hadits)”. (HR. Maalik Fii Muatho’).
8. Fa-in Tanaaza’tum fii Sya-in Farudduuhu Ilalloohi Warrosuuli Inkuntum Tu’minuuna Billaahi Walyaumil Aakhir(i)
Yang artinya: “Maka jika kamu berselisih faham/berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Al-Qur’an) dan Rosul (Al-Hadits), jika kamu beriman dengan Alloh dan hari akhir”. (QS. An-Nisaa’, No. Surat: 4, Ayat: 59).
9. Man ‘Amila ‘Amalan Laisa ‘Alaihi Amrunaa Fahuwa Rodd(un)
Yang artinya: “Barangsiapa mengamalkan pada suatu amalan yang tidak ada (dasar) perkara (ajaran) kami atasnya, maka amalan tersebut ditolak”. (HR. Bukhori)
10. Laa Yazaalun Naasi Bikhoirin Maa Baqiyal Awwalu Hatta Yata’allamal Akhir(u), Fa-idzaa Halakal Awwalu Qobla Ayyata’allamal Akhiru Halakan Naas(i)
Yang artinya: “Manusia akan selalu dalam keadaan baik selama orang awal (generasi tua/ulama’ sepuh) masih tetap ada/hidup sehingga orang akhir (generasi muda) mau belajar (pada generasi tua tersebut), kalau orang awal telah mati sementara orang akhir belum belajar (padanya) maka (saat itulah manusia) rusak”. (HR. Thobrooni, No. Hadits 929).
11. Yaa Ayyuhan Naas(u), Innamal ‘Ilmu Bitta’allum(i), Walfiqhu Bittafaqquhi
Yang artinya: “Hai manusia, sesungguhnya ilmu bisa didapat dengan cara belajar, sedangkan kepahaman bisa didapat dengan cara berusaha paham”. (HR. Thobrooni).

12. Halaka Ummatii ‘Alaa Yaday Ughoilimatis Sufahaa-in
Yang artinya: “Umatku rusak ditangan pemuda yang bodoh”. (mak: generasi muda yang tidak memahami perkara dosa-fahala, halal-harom, manfa’at-madhorot, mahrom dan bukan mahrom, baik-buruk, dll. Menuruti hawa nafsu). (HR. Bukhori).
13. Al-Kayyisu Man Daana Nafsahu Wa ‘Amila Limaa Ba’dal Maut(i), Wal ‘Aajizu Man Atba’a Nafsahu Hawaahaa Watamanna ‘Alallooh(i)
Yang artinya: “Orang yang cerdas, ialah orang yang mengoreksi dirinya dan mengamalkan apa-apa untuk setelahnya mati, sedang orang yang lemah/bodoh ialah orang yang mengikutkan dirinya pada hawa nafsunya dan berangan-angan atas Alloh”. (HR. Tirmidzi Juz 4 Hal 638).
14. Asyaddun Naasi Hasrotan Yaumal Qiyaamati Rojulun Amkanahu Tholabul ‘Ilmi Fiddunyaa Falam Yathlubhu
Yang artinya: “Pada hari Kiamat kelak, manusia yang paling menyesal adalah seseorang yang mungkin sekali (mempunyai kesempatan) untuk mencari ilmu di dunia tapi ia tidak mau mencarinya”. (HR. Thobroni).
15. Innallooha Yubghidhu Kulla Ja’dhzoriyyin Jawwaadhzin Sakhkhoobin Fil Aswaaqi Jiifatin Billaili Himaarin Bin Nahaar(i)
Yang artinya: “Sesungguhnya Alloh murka kepada setiap orang yang keras hati lagi kasar, tukang bertengkar di pasar, membangkai di malam hari (tidur saja tidak mau sholat sunnah dan berdo’a), di siang hari seperti himar / kuda (suka pergi kemana-mana lalai ibadah), pandai di bidang duniawi, bodoh dalam urusan akherat”. (HR. Baihaqi).

16. Innahu Layastaghfiru Lil’alimi Man Fis Samaawaati Wa Man Fil Ardhi Hattal Hitaani Fil Maa-i
Yang artinya: “Bahwasannya orang yang di langit (malaikat) dan orang yang di bumi (orang-orang iman) sehingga ikan-ikan di lautan memintakan ampunan bagi orang ‘alim/berilmu”. (HR. Ibnu Majah juz 1 hal 87).
17. Idzaj Tama’al ‘Aalimu Wal ‘Aabidu ‘Alash Shiroothi, Qiila Lil ‘Aabid(i), “Udkhulil Jannata Watana’am Bi’ibaadatik(a), Waqiila Lil ‘Aalimi Qif Hunaa Fasyfa’ Liman Ahbabta Fa-innaka LaaTasyfa’u Li-ahadin Illaa Syuffi’ta Faqooma Maqoomal Anbiyaa-i
Yang artinya: “Ketika orang yang berilmu dan orang yang ahli beribadah telah berkumpul di atas jembatan shirothol mustaqiim, maka dikatakan pada orang yang ahli beribadah “Masuklah kamu ke surga dan nikmatilah (hasil) beribadahmu”, dan dikatakan pada orang yang ahli ilmu “Berhentilah disitu, lalu memberilah syafa’at pada orang yang kamu senangi! Sesungguhnya,  kamu tidak mensyafa’ati seseorang kecuali pasti kamu akan disyafa’ati (artinya: setiap orang yang disyafa’atinya pasti tertolong) terus ia berdiri pada tempat berdirinya para nabi”.
18. Yarfa’illaahul Ladziina Aamanuu Minkum Wal Ladziina Uutul ‘Ilma Darojaat(in), Walloohu Bimaa Ta’maluuna Khobiir(un)
Yang artinya: “Niscaya Alloh akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu sekalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Alloh Maha waspada terhadap apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Mujaadilah, No. Surat: 58, Ayat: 11).
19. Tholabul ‘Ilmi Afdholu ‘Indalloohi Minash Sholaati Wash-shiyaami Wal Hajji Wal Jihaadi Fii Sabiilillaah(i)
Yang artinya: “Di sisi Alloh, menuntut ilmu lebih utama ketimbang sholat, puasa dan haji serta jihad/berjuang di jalan Alloh”. (HR. Ad-Dailami)

Selasa, 17 Maret 2015

Jangan Mengeluh Jangan Gelisah

 
Kita selalu bertanya dan Al Qur’an sudah menjawabnya
1. KITA BERTANYA: MENGAPA AKU DIUJI?
QURAN MENJAWAB:
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan,”Kami telah beriman”, sedangkan mereka tidak diuji?
Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui oang-orang yg benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”
[Surah Al-Ankabut ayat 2-3]
2. KITA BERTANYA: MENGAPA UJIAN SEBERAT INI?
QURAN MENJAWAB:
“Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya,”
[Surah Al-Baqarah ayat 286]
3. KITA BERTANYA: MENGAPA AKU TAK DAPAT APA YG AKU IDAM-IDAMKAN?
QURAN MENJAWAB:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”
[Surah Al-Baqarah ayat 216]
4. KITA BERTANYA: MENGAPA AKU MERASA FRUSTRASI?
QURAN MENJAWAB:
“Janganlah kamu bersikap lemah. dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman.”
[Surah Al-Imran ayat 139]
5. KITA BERTANYA: BAGAIMANA AKU HARUS MENGHADAPINYA?
QURAN MENJAWAB:
“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan sholat; dan sesungguhnya shalat itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyu”
[Surah Al-Baqarah ayat 45]

6. KITA BERTANYA: APA YANG AKU DAPAT DARIPADA SEMUA INI?
QURAN MENJAWAB:
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri, harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka.
[Surah At-Taubat ayat 111]
7. KITA BERTANYA: KEPADA SIAPA AKU BERHARAP?
QURAN MENJAWAB:
‘Cukuplah Allah bagiku,tidak ada Tuhan selain dariNya. Hanya kepadaNya aku bertawakkal.”
[Surah At-Taubat ayat 129]
8. KITA BERKATA: AKU TAK TAHAN!!!!!!
QURAN MENJAWAB:
“……dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.”
[Surah Yusuf ayat 12]
9. KITA BERTANYA: MENGAPA HATI INI TIDAK TENANG ?
QURAN MENJAWAB:
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
[Ar Ra’d ayat 28]

HASEHAT

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ للهِ اَذْهَبَ عَنَّاالْحَذَنْ اِنَّ رَبَّنَالَغَفُوْرٌ الشَكُوْرُ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَمَّابَعْدُ
Pertama saya bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan beberapa kenikmatan Kepada kita semua. Baik berupa kesehatan…, kelonggaran kekayaan dan juga pol-polnya nikmat sebagai rajanya nikmat kita masih diberikan hidayah Qur’an Hadits Jama’ah ini. Kita diberikan hidayah Qur’an Hadist yang berbentuk Jama’ah merupakan suatu kenikmatan yang tak tertandingi, sebab tidak semua orang diberi oleh Allah, seperti dalam hadits Nabi :
اِنَّ اللهَ يُعْطِى الدُّنْيَا مَنْ يُّحِبُّ وَمَنْ لاَيُحِبُّ وَلاَ يُعْطِى الدِّيْنَ اِلاَّ مَنْ اَحَبَّ فَمَنْ اَعْطَاهُ اللهُ الدِّيْنَ فَقَدْ اَحَبَّهُ* رواه احمد
Sesungguhnya keduniaan diberikan oleh Allah kepada orang yang dicintai dan orang yang tidak dicintainya, dan agama hanya diberikan kepada orang yang dicintainya saja, maka barang siapa yang diberi agama oleh Allah sama halnya dicintainya (HR. Ahmad)
Jadi kita harus benar-benar bersyukur kepada Allah dijadikan orang iman, dijadikan calon ahli surga, diselamatkan dari jurang neraka, sebagaimana dalam firman Allah salam QS. Ali Imron ayat 103
…وَكُنتُمْ عَلَىَ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ سورة ال عمران 103
….dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, dengan hidayahnya Allah menyelamatkan kalian dari api neraka. Seperti itulah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya pada kalian, agar kalian mendapat petunjuk (QS. Ali imron 103)
Maka, dari itu semua pemberian dari Allah harus kita syukuri secara ucapan dan perbuatan. Adapun ucapan kita syukuri Alhamdulillahi robbil ‘aalamin, dan perbuatan kita juga harus benar-benar mencerminkan sikap orang jama’ah, sikap orang yang beriman sesuai dengan tuntunan Allah dan Rosul dan meningkatkan amalan-amalan yang bagus.
Dan yang keduakalinya saya bersyukur pada para perantara agama yang telah mem-perjuangkan agama yang hak ini, mulai dari nabi kita Muhammad SAW yang dibantu para sahabat, kemudian diteruskan para mubaligh dan mubaligotnya.
Terutama mubaligh besar kita Bapak KH. Nurhasan Al Ubaidah Lubis yang telah membawa Qur’an Hadits Jama’ah ini dari Mekah Madinah sampai ke Negara Indonesia yang mana sekarang ini diteruskan oleh putranya yaitu Bapak H.M. Abdul Azis Sultan Aulia yang menjadi pengatur kita sekarang. Semua itu harus kita syukuri, sebab belum dikatakan syukur pada Allah sebelum bersyukur pada manusia, sebagaimana sabda Nabi :
مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسِ لَمْ يَشْكُرِ اللهَ *رواه احمد
Barang siapa yang belum bersyukur kepada manusia sama halnya belum bersyukur kepada Allah (HR. Ahmad)
Maka dari itu kita harus bersyukur kepada beliau-beliau sebab perjuangan mereka tidak enak-nakan seperti sekarang, dulu mereka berkorban harta benda, keluarga bahkan nyawanya untuk menegakkan agama yang benar ini, dan atas jasa para perantara Agama saya syukuri dengan ucapan
اَلْحَمْدُ للهِ جَزَاهُمُ اللهُ خَيْرًا
Selanjutnya saya bersyukur pada sudara jama’ah dimana saja berada baik itu didalam negri maupun diluar negri yang sempat membaca nasehat ini saya syukuri dengan ucapan Alhamdulillah jazaahumullahu khairan, adapun yang tidak sempat membaca nasehat ini saya doakan semoga bisa tetap menetapi Qur’an Hadits Jama’ah dan diampuni oleh Allah. Dan saya ingatkan supaya kita benar-benar niat sak dermo karena Allah mengharapkan surganya Allah dan takut siksanya Allah.
يَرْجُوْنَ رَحْمَتَهُ وَيْحَوْفُوْنَ عَذَابَهُ
Sebab Allah tidak akan menerima amalan yang tidak murni muclis karena Allah
اِنَّ اللهَ لاَيَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ اِلاَّ مَاكَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجَهُهُ
Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amalan kecuali dengan dasar murni dan mencari wajah Allah (karena Allah)
Maka dari itu supaya hatinya benar-benar di totoh jangan sampai salah niat, berubah niat atau bahkan tanpa niat.
Adapun nasehat dan ajakan saya disini sak dermo menyambung nasehat ajakan Bapak Pengatur kita satu-satunya jama’ah selalu tetap menetapi, memerlukan, dan mempersungguh Qur’an Hadits Jama’ah karena Allah sampai pol ajal matinya masing-masing.
Adapun yang dimaksud satu-satunya Jama’ah semua warga jama’ah itu wajib menetapi jama’ah jangan sampai ada yang terlewatkan. Misalnya dalam keluarga ada lima orang jama’ah semua itu wajib menetapinya, jika tidak dapat bersama ya supaya bisa bergantian/giliran yang penting ke lima-limanya itu harus bisa menetapi.
Dan Tetap itu artinya tidak berubah, tidak pindah tidak gingsir, walaupun banyak cobaan baik masalah agama maupun masalah dunia. Contoh masalah dunia digegeri, dimusuhi, difitnah dan dijatuhkan dan sebagainya. Semua itu hanyalah cobaan dari Allah untuk menguji keimanan kita. Untuk itu kita harus selalu sabar dan tetap menetapi jama’ah jangan sampai terpengaruh.
Adapun menetapi maksudnya mengerjakan/menjalankan secara terus menerus peraturan Allah, Rasul, dan Imam yang tidk maksiat. Mengarjakan kewajiban dan dapukan masing-masing, tertib dalam ibadah dan menjauhi larangan-larangan Allah serta mengerjakan perturan Allah dan Rasul.
Yang dimaksud memerlukan yaitu mengerjakan sampai berhasil/sampai mati kalau tidak masuk ya dimasuk-masukkan yang penting bisa berhasil dan terlaksana.
Sedang mempersungguh adalah lahir batin didalam jama’ah, lahirnya selalu bergaul dengan orang jama’ah berhubungan dengan orang jama’ah sehingga disaksikan lahirnya selalu dalam jama’ah, adapun batinnya selalu mendekatkan pada Allah “taqarrub ilallah selalu berdoa kepada Allah supaya ditetapkan keimanannya dan bisa menetapi sampai ajal datang. Adapun hasilnya barang siapa yang bisa menetapi Qur’an Hadits Jama’ah sampai mati wajib masuk surga
….وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ….. الاية سوراة النسا13
Dan barang siapa taat Allah dan utusannya maka Allah akan memasukkan kedalam surga
وَمَن يَعْصِ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَاراً….. الاية سوراة النسا14
Dan barang siapa yang menentang Allah dan Rasulnya serta melanggar peraturan-peraturan, maka Allah akan memasukkan kedalam neraka
Dan untuk menetapi Qur’an Hadist Jama’ah itu Bapak pengatur kita telah membuat peraturan Lima Bab dan itu tidak ngawur melainkan ada dasarnya dan pedomannya yaitu dasar Qur’an dan Hadits Nabi. Adapun perincian Lima Bab itu adalah ngaji, ngamal, mbela, sambung dan toat.
1. NGAJI
Ngaji/mencari ilmu wajib bagi kita semua orang mulai dari kecil sampai mati
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ *رواه مسلم
Mencari ilmu itu wajib bagi tiap-tiap islam (HR. Muslim)
Adapun hasil ngaji itu banyak sekali antara lain :
Menambah pengetahuan
Menghilangkan kebodohan
Mengesahkan amalan dan masih banyak lagi manfaatnya.
Dan ilmu yang wajib dicari hanya ada 3, adapun selain itu hanya keutamaan. Tiga ilmu itu adalah 1 Al-Qur’an, 2 Al-Hadits dan ke 3 ilmu pembagi waris yang adil. Dan ilmu pembagi waris boleh dicari boleh juga tidak, kalau tidak pun tidak berdosa
اَلْعِمُ ثَلاَثَةٌ وَمَاسِوَى ذَلِكَ فَهُوَ فَضْلٌ : اَيَةٌ مُحْكَمَةٌ اَوْسُنَّةٌ قَآئِمَةٌ اَوْفَرِيْضَةٌ عَادِلَةٌ رواه ابوداواد
Ilmu ada tiga selain itu lebihan yaitu : ayat yang menghukumi, Sunnah yang tegak, ilmu pembagi waris yang adil.
Ilmu itu ada tiga selain itu hanyalah keutamaan, dan yang tiga itu adalah ayat untuk menghukumi berupa Al-Qur’an, Sunnah yang tegak yaitu Al-Hadits dan juga pembagian harta waris yang adil. Al-Qur’an itu merupakan kalamnya Allah yang berisi perintah, larangan dan cerita. Perintah wajib kita laksanakan, larangan wajib kita jauhi, dan cerita wajib kita percayai. Sedangkan Hadits itu ucapan nabi, tingkah laku nabi, ikrar nabi dan juga cita-cita nabi. Dan barang siapa yang mau menetapinya maka dia akan masuk surga seperti dalam sabdanya nabi
مَنْ اَحْيَا سُنَّتِى فَقَدْ حَبَّانـِى وَمَنْ حَبَّانـِى مَعِيَ فِـى الْجَنَّةٍ
Barang siapa yang menghidupkan sunnahku maka dia sungguh senang padaku dan barang siapa yang senang berarti dia bersamaku masuk ke surga
Adapun ilmu faroid itu telah tercantum didalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dan jangan sampai kita tidak mau ngaji, sebagaimana sabda nabi
Jadilah kamu orang yang alim (mubaligh/mubalighot)
Kalau tidak bisa jadilah orang yang belajar(jama’ah biasa)
Dan kalo tidak bisa, jadilah orang yang mendengarkan (bukan mubaligh/mubalighot)dan tidak bisa membaca/menulis maka jadilah mustamik)
Atau jika tidak mampu jadilah orang yang senang pada pengajian.
Dan jangan jadi orang yang kelima yaitu orang yang rugi tidak bisa mengerjakannya.
2. NGAMAL
Setelah kita mengaji dan mengetahui ilmunya ya wajib untuk kita amalkan terus-menerus sampai tutup pol ajal kita masing-masing, sebab amalan yang hisap itu adalah amalan terakhir kita.
وَعْبُدْ رَبُّكَ حِتَّى يَاْئتِيَكَ الْيِقِيْنَ
Sembalah Tuhanmu sampai datangnya mati
Jangan sampai amalan kita putus ditengah jalan. Misalnya lalu setelah dewasa/berumah tangga karena tidak kuat menghadapi cobaan kita keluar dari jama’ah, itu jangan sampai. Dan supaya kita benar-benar bisa mengamalkan apa yang kita kaji sebab sesungguhnya surga itu untuk orang yang mau beramal.
وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِى اُوْرِثْتُمُوْهَا بِمَاكُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
Demikian itu surga diwariskan kepadamu sebab perbuatanmu/pengamalanmu
Dan jangan sampai kita mengamalkan sesuatu yang tidak ada ilmunya karena itu tidak akan diterima oleh Allah, seperti firman Allah surat bani israil ayat 36
وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً
Dan janganlah kamu mengerjakan amalan yang tidak kamu ketahui ilmunya . Sesungguh-nya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan ditanya.
Dalam pengamalan kita harus mempunyai pedoman, penertiban, peningkatan dan penggemblengan.
a. Penertiban yaitu amal ibadah kita haruslah lebih tertib dari sebelumnya, ditertibkan ngajinya, ditertibkan sholatnya, juga ditertibkan ibadah-ibadah sunnahnya dan lain-lain
b. Peningkatan yaitu semakin lama dalam jama’ah kita harus lebih meningkatkan kefahaman kita, lebih meningkatkan amalan-amalannya yang akan memasukkan kita kedalam surge.
c. Penggemblengan yaitu sebagai orang jama’ah kita digembleng untuk jadi orang yang baik, bisa hidup apa adanya, bisa nrimo ing pandom menerima segala pemberian dari Allah tidak mengerutu dan tidak terlalu ngoyo yang penting bisa ibadah jangan hanya ingin hidup mewah dan berfoya-foya. Ingatlah bahwa dunia ini hanya sementara dan yang kekal adalah diakhirat surga dan neraka itu. Dan dalam mencari surga itu ya memang berat seperti dipenjara
الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَفِرِ
Dunia itu penjaranya orang iman, dan surganya orang kafir
Maka dari itu jangan sampai terpengaruh dengan dunia
3. MEMBELA
Dalam menetapi Qur’an Hadits Jama’ah ini juga perlu pembelaan sebab agama ini merupakan benda mati, tidak bisa bergerak kalau tidak dibelani ya tidak akan bisa berkembang.
اِنْفِرُوْا خِفَافًا وَثِقَلاً وَجَاهِدُوْا بِاَمْوَالِكُمْ وَاَمْفُشِكُمْ فِـى شَبِيْلِ اللهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
Berangkatlah kamu dengan keadaan ringan dan berat, dan belalah agama Allah dengan harta dan dirimu, seperti itu baik bagimu jika kamu tahu.
Dalam pembelaan kita harus punya perinsip Sabar, Benar dan Berani.
Benar yaitu agama yang kita bawa dan kita perjuangkan itu harus agama yang benar.
Berani/Kendel yaitu dalam memperjuangkan agama haruslah jadi orang yang pemberani, karena jika agama dipegang oleh orang yang lacut dan curang maka agama ini tidak akan bisa berjalan dan berkembang.
Sabar/Tabah yaitu untuk memperjuangkan Qur’an Hadits Jama’ah ini perlu kesabaran dan ketabahan sebab jika tidak sabar ya mana mungkin akan bisa berkembang seperti sekarang ini Contohnya Bapak H. Nurhasan dulu jika tidak sabar menghadapi cobaan dan rintangan manamungkin kita dapat menemukan agama yang benar ini.
Dana / Modal yaitu perjuangan kita ini juga perlu dana/modal. Contohnya Bapak H.Nurhasan rela menyerahkan hartanya untuk perjuangan Qur’an Hadits Jama’ah.
Dan bila kita mati semua amalan itu akan putuskecuali ada tiga perkara yaitu:
1.Shodqoh Jariah yaitu amalan ini akan tetap mengalir walaupun kita sudah mati. Contohnya kita membangun masjid, baik shodaqoh harta, tenaga dan sebagainya.
مَنْ بَنَى مَسْجِدً فِـى الدُّنْيَا بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِـى الْجَنَّةِ
Barang siapa yang membangun masjid di duniaanya, maka Allah membangunkan untuknya rumah di surga.
Untuk itu kita harus lebih, lebih memperbanyak shodaqoh kita.
2.Ilmu yang bermanfaat yaitu ilmu yang kita pelajari dan yang dapat kita sampaikan pada orang lain serta dapat kita amalkan / praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya jadi orang mubaligh dan mubalighot
3.Anak yang sholeh dan sholeha yang selalu mendoakan kedua orang tuanya
4.SAMBUNG JAMA’AH
Sambung dan ngaji itu beda kalau ngaji bisa sewaktu-waktu kalau sambung itu adalah pada waktu yang telah ditentukan waktunya baik dikelompok, desa daerah ataupun sambung pusat. Dan sambung itu banyak manfaatnya antara lain :
1. Sebagai penyaksian imam terhadap rukyah-nya
2. Bisa cepat menyelesaikan masalah, dan masih banyak manfaat yang lain :
وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu berpecah belah
Dan sabda Nabi Saw.
اْلجَمَا عَةُ رَحْمَةٌ وَلْفِرْقَةُ عَذَابٌ
Jama’ah itu rahmat (surga) dan pecah belah itu (selain jama’ah) siksa (neraka).
Jadi jama’ah itu merupakan dari Allah dan perpecahan itu merupakan adzab, siksa dari Allah
5.THOAT
Thoat ini merupakan kunci orang bisa dapat masuk surga selamat dari neraka, sebab dengan thoat tadi program diatas bisa dilaksanakan semua. Dan thoat diatas haruslah bisa dilaksanakan oleh semua jama’ah yaitu thoat Allah, Rosul dan Imam
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ….* الأية سورة النساء 59
Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah kalian pada Allah dan ta’atilah kalian pada Rasul (Nya), dan pada orang-orang yang mengatur perkara dari kalian.
Thoat Allah itu wajib, mutlak disembah dan dithoati semua perintahnya sak pol kemampuannya dan larangannya dijauhi sejauh-jauhnya. Tohat Rasul itu tidak wajib disembah tapi wajib di thoati, dan thoat imam itu selama perintahnya tidak maksiat dan bagi ibu-ibu supaya thoat pada suaminya masing-masing, bisa boso yang baik dan jangan suka memerintah pada suaminya, baik didepan orang banyak ataupun ber-hadapan sendiri. Bagi anak-anaknya supaya thoat pada orang tua

Kamis, 12 Maret 2015

Resep Anti Galau

DZIKIR
Ada satu firman Alloh dalam surah ar-Ro’d ayat 28 yang berbunyi:

(yaitu) orang-orang beriman yang hati mereka tenteram dengan dzikir pada Alloh. Ketahuilah bahwa dengan dzikir pada Alloh hati akan merasa tenteram”.
Dari ayat ini kita mestinya bisa mawas diri bahwa kalau kita sering galau, bisa jadi karena kita kurang dzikir. Karena bagi yang sudah membiasakan dzikir, Alloh menjanjikan baginya ketenteraman hati alias tidak galau.
ISTIGFAR
Apa yang harus kita baca? Memang banyak macam kalimat dzikir yang bisa kita baca, diantaranya adalah istigfar.
Salah satu sabda Rasululloh SAW dalam hal keutamaan istigfar adalah: “Barangsiapa yang membiasakan membaca istigfar maka Alloh akan:
• memberinya jalan keluar dari setiap problema hidup yang dia hadapi,
• memberinya kemudahan dari segala kesulitan hidupnya,
• memberinya rejeki dari sumber atau arah yang dia tidak duga sebelumnya”.(HR Ibnu Majah).
Jadi hikmah dari istigfar pun, selain sebagai penghapus dosa, juga adalah sebagai penghilang galau.
TAHLIL dan TASBIH
Di surah al-Anbiya’ ayat 87 – 88 Alloh menceritakan:

“dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Nabi Yunus), ketika ia pergi sambil marah-marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka ia menyeru dalam kegelapan [*]: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim”.

“Maka Kami mengabulkan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan, dan seperti itulah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.”
[*] Yang dimaksud dengan “dalam kegelapan” ialah di dalam perut ikan, di dalam laut dan di malam hari.
Maka kita pun bisa membaca tahlil dan tasbihnya Nabi Yunus ini untuk menghilangkan kegalauan: “Laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minazh-zhaalimiin”.
ISTIQOMAH
Di dalam surah Fushshilat ayat 30 – 31 Alloh berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan “Tuhan Kami adalah Allah” kemudian mereka istiqomah, maka para malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan “Janganlah kalian takut dan janganlah merasa sedih; dan gembiralah dengan sorga yang telah dijanjikan pada kalian”.

Kamilah (Alloh) kekasih pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kalian akan memperoleh apa yang kalian inginkan dan bagi kalian di dalamnya apa yang kalian minta.
Sikap istiqomah, teguh pendirian, konsekwen dan konsisten, “tetap menetapi” peraturan-peraturan Alloh,mestinya membawa kita pada kehidupan yang gembira dan tidak galau. Apalagi Alloh menjadi kekasih pelindung kita. Bukankah tidak ada yang lebih baik dari pada itu?
TAHMID
Rasulullah SAW pernah menyabdakan: “Aku kagum dengan sikap orang beriman terhadap ketentuan Alloh. Jika Alloh menentukan nikmat, maka dia bertahmid dan bersyukur; jika Alloh memberinya musibah, dia bertahmid dan bersabar. Berarti dia mendapat kebaikan dari setia keadaan”. (HR Ahmad bin Hanbal).
Kalau kita memahami hikmah dari tahmid (membaca “Alhamdu lillaah”) sambil syukur dan sabar maka mestinya hidup kita tidak jadi galau dong, karena hidup kita akan selalu diisi oleh Alloh dengan kebaikan.
PERCAYA ADANYA TAKDIR
Tegaknya iman kita dengan percaya pada rukun iman yang enam. Rukun iman yang ke-enam adalah percaya adanya takdir. Tidak percaya dengan adanya takdir bisa membuat seseorang menjadi kufur. Dan Rasululloh SAW menyabdakan: “Beriman pada takdir bisa menghilangkan kesusahan besar maupun kesusahan kecil”. (HR al-Hakim).
Atau sebagaimana nasehat seorang shahabat Nabi yang bernama ‘Ubadah bin Shamit: “Engkau tidak akan merasakan manisnya iman sampai engkau yakin bahwa apa yang telah ditakdirkan untukmu itu tidak akan luputdarimu dan apa yang tidak ditakdirkan untukmu maka tidak akan terjadi padamu”. (HR Abu Dawud).
BERPRASANGKA BAIK DAN SABAR
Dalam suatu hadits qudsi Alloh berfirman: “Aku berada pada persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku”. (HR Muslim). Dalam memilih antara berprasangka jelek (su-uzhzhon) dan berprasangka baik (husnuzhzhon) maka akal sehat akan membawa kita pada husnuzhzhon. Hadapilah hidup ini dengan optimistis, jangan selalu pesimistis karena akan membuat hidup kita jadi galau.
Ibarat kalau sekarang ini musim kemarau, buat apa kita selalu galau mengkhawatirkan jangan-jangan rumah kita kebanjiran. Kalaupun mau galau, jangan hanya sekedar galau tanpa usaha nyata, tapi lebih baik kita bikin tanggul atau kita tinggikan lantai rumah kita. Kalaupun musim hujan datang dan ternyata rumah kita masih kebanjiran juga, berarti kita harus putar otak lagi mencari jalan lain. Karena pada hakekatnya orang sabar itu bukan orang yang pasif menyerah pada takdir, tapi orang sabar itu adalah orang yang menghadapi hidup dengan penuh taktik dan strategi, sebagaimana digambarkan dalam surah al-Anfal ayat 66:

“Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia tahu bahwa padamu ada kelemahan, maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus musuh; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu musuh dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”.

Rabu, 11 Maret 2015

BERSYUKUR

Seorang wanita yang baru saja meninggal ternyata merindukan kehidupan yang baru saja ditinggalkannya. Ia berharap bisa ”mengunjungi” kembali salah satu hari yang ”tidak penting” yang pernah terjadi dalam hidupnya. Ketika harapannya dikabulkan, ia menyadari betapa selama ini ia menjalani hidupnya tanpa rasa syukur, seakan-akan semua itu sudah selayaknya menjadi miliknya.

Akhirnya kunjungannya itu menjadi beban berat yang tak tertanggungkan olehnya. ”Saya tidak menyadari,” katanya dengan penuh sesal, ”Semua yang terjadi tak pernah kita sadari benar. Selamat tinggal, rumahku. Suami dan putri kesayanganku…. Ibu dan ayah…. Selamat tinggal detak jam dinding dan bunga-bunga yang indah di pekarangan. Dan makanan dan kopi. Dan baju-baju yang baru diseterika dan air mandi hangat …. dan saat-saat tidur dan terjaga. Oh hidup, kau terlalu mengagumkan hingga orang tak menyadari betapa mengagumkannya engkau.”
Itulah salah satu adegan yang cukup menyentuh sanubari dalam sebuah drama karya Thornton Wilder – seorang pengarang Amerika — berjudul Our Town. Wilder nampaknya ingin mengingatkan kita untuk senantiasa menikmati hari dengan penuh rasa syukur. Setiap hari sebetulnya adalah istimewa. Sayang, kita sering tak menyadarinya karena ”mata” kita tertutup.

Nah, situasi seperti ini – yang menjebak – telah diingatkan oleh Allah dalam ayat-ayatnya. Agar kita bisa menyibak setiap hari kita dengan kesyukuran, Allah memerintahkan menggandeng syukur tersebut dengan kesabaran. Allah berfirman : Sesungguhnya di dalam yang demikian itu niscaya menjadi ayat bagi tiap-tiap orang yang sabar lagi bersyukur. (Surat Ibrohim ayat 5, Surat Luqman ayat 31 dan Surat  Saba’ ayat 19). Bagaimana cara kita bersabar dalam bersyukur itu?
Dalam hidup ini kita seringkali tak dapat menemukan hal-hal yang patut disyukuri karena kita sering merasa bahwa sesuatu itu sudah semestinya terjadi. Sudah biasa. Kulino. Padahal, segala sesuatu tidak terjadi begitu saja. Semuanya karena rahmat Allah Yang Esa. Mungkin kita tidak merasa mendapatkan hal istimewa pada suatu hari. Tapi, bukankah hari itu kita dan seluruh anggota keluarga sampai di rumah dengan selamat? Bukankah kita masih bisa menikmati makanan yang lezat? Bukankah jantung kita masih terus berdetak, nafas kita pun tak pernah berhenti? Bukankah kita masih dapat melihat, mendengar, berjalan, dan bekerja?

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS AN-Nahl:18)
Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (QS Ibrahim: 34)

Hal-hal yang tersebut di atas seringkali kita anggap sebagai sesuatu yang remeh, dan terjadi begitu saja. Given. Padahal, kenyataannya tidak demikian. Coba Anda saksikan acara ”Oprah Winfrey Show” yang disiarkan salah satu televisi swasta, atau acara Tali Kasih yang dipandu Dewi Hughes beberapa waktu yang lalu. Anda akan sadar, bahkan mungkin sambil meneteskan air mata menyaksikan betapa banyaknya orang yang tak dapat menikmati hal-hal yang kita anggap remeh tadi. Menyaksikan acara-acara seperti ini akan membuka mata hati kita akan betapa banyaknya rahmat yang sering kita lupakan dalam hidup ini. Sungguh sangat disayangkan. Simaklah kisah pendek sufi berikut untuk meningkatkan kesyukuran kita.

 Pada suatu hari Syaqiq al-Balkhi bertanya kepada Ibrahim bin Adham.
Syaqiq bertanya, ”Bagaimana model kehidupan Anda?”
Ibrahim menjawab, ”Jika kami memperoleh rezeki kami bersyukur, jika tidak maka kami bersabar.”
”Itu sama halnya dengan kebiasaan anjing-anjing di Khurosan,” timpal Syaqiq.
Ibrahim terhenyak dan kemudian bertanya, ”Memangnya bagaimana model kehidupan Anda?”
Syaqiq menjawab, ”Jika kami mendapat rezeki, maka kami dermakan, jika tidak maka kami bersyukur.”

Nah, sabar dalam bersyukur mengajak kita menikmati setiap detik dari kehidupan ini sebagai sesuatu yang indah. Setiap keadaan yang kita jumpai adalah anugerah dari Yang Kuasa. Sebagai belas kasih dan rahmat yang tak terhingga. Sabar dalam bersyukur tidak harus menunggu kabar baik saja untuk memulai dan ingat untuk bersyukur. Tapi dalam keadaan biasa, tanpa kabar baik maupun kabar buruk tetap pol syukurnya. Sebab sabar meniti setiap detik sebagai nikmat yang tidak semua orang menjumpainya. Sabar dalam bersyukur mampu mengubah yang biasa menjadi luar biasa.

Falsafah Jawa mengenal istilah ”Masih untung.” Ini sebuah cara pandang yang sangat spiritual. Paradigma ”Masih untung” ini bukanlah sekadar untuk menghibur dan menyenang-nyenangkan diri. Sikap ini didasari oleh keyakinan mendalam bahwa Tuhan senantiasa melindungi kita. Bahwa rahmat selalu ada di sekitar kita betapa pun kecilnya. Ini akan mengubah penolakan menjadi penerimaan, kekacauan menjadi keteraturan, dan kekeruhan menjadi kejernihan. Lebih dari itu hidup kita akan senantiasa diliputi perasaan penuh. Apapun yang sudah kita miliki menjadi cukup, bahkan berlebih. Itu tak lain adalah sebuah sikap bersyukur. Buah dari kesyukuran ketika kita telah dapat menerapkan sabar dalam bersyukur dalam diri kita. Ketika itu kita akan menemukan arti sesungguhnya dari dalil lain syakartum la-aziidannakum.

Terus, bagaimana memulainya? Caranya gampang. Mulailah mengakhiri setiap kegiatan kita dengan bersyukur. Jika yang ini masih terlupa, susah, maka tuturkanlah sebelum tidur rasa syukur kita. Berapa banyak? Cukup 3 nikmat saja. Dan tiga kesyukuran setiap hari saya kira cukup untuk mengubah cara pandang kita terhadap hidup ini. Insya Allah dengan kiat sederhana ini akan terasa hidup ini begitu indah, penuh rahmat, berkecukupan, dan berkelimpah-ruahan. Inilah pintu menuju sabar dalam bersyukur.